Ilustrasi Gambar By : Google



CERITA INI HANYA FIKTIP & BUALAN BELAKA


Alunanan pagi datang menjelma menjadikan perubahan hari yang begitu indah, Sayup-sayup angin pagi masih terasa ditambah aliran sungai kecil disebuah pure yang bergemericih indah beriringan seolah membuat hati seorang wanita yang bernama Zita menjadi kian bersahaja menikmati hidup serta karunia yang telah ia terima untuk mengobati luka masa lalu.

Zita pun tersenyum sambil mengamati sepasang kupu-kupu yang terbang kian kemari dihadapannya. Sambil sesekali meneguk lemon tea hangat kesukaannya ia pun menatap alam sekitar pure sambil berdecak kagum akan indahnya alam yang telah tuhan ciptakan untuk umat manusia.

"Heem!! tidak sia-sia hampir 3 bulan aku berada dipulau Dewata Bali ini. Dan semua orang disini sepertinya memberikan kebaikan dan keramahtamahan bagi diriku serta batin jiwa ini"...Zita pun terus melangkahkan kakinya berkeliling disektar pure taman Saraswati Gianyar Bali.

Selain berterapi jiwa wanita bernama Zita itu pun juga aktif didunia wisata yang memang sudah menjadikan rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Untuk mengobati luka hatinya. Ia bekerja keras sepanjang waktu. Melakukan observasi di hutan lindung bersama I nyoman Herman Dwipa atau orang mengenalnya Herman, pemuda asli pulau Bali.

Herman adalah anak tetua adat. Masih keturunan raja terakhir dipulau Dewata Bali. Sekalipun secara struktural pemerintahan tidak memiliki wewenang, masyarakat setempat masih menaruh hormat pada keluarga besarnya.

Zita amat terbantu dengan kehadiran pemuda bermata Sendu itu. Ia mengenalkan kebiasaan-kebiasaan setempat dan mengajaknya berbaur dengan masyarakatnya. Pada waktu-waktu tertentu Herman terkadang mengajak Zita berkunjung kekebun buah jeruk bali dan lemon yang ia miliki, Berkat warisan dari orang tuanya yang tumbuh subur tak jauh dari pure dimana ia tinggal.

Herman mengajarinya budaya dipulau bali tersebut, hingga ia memahami kebijakan masyarakat setempat dalam memperlakukan alam. Mereka hidup berdampingan secara harmonis dengan alam sekitar. Hutan-hutan yang terlindungi, perairan yang bersih dan sungai-sungai yang jernih menunjukkan penyatuan alami masyarakat dengan lingkungannya.

Meski terkadang Zita terheran-heran dengan luasnya pengetahuan yang dimiliki pemuda itu. Sekalipun Herman selalu menampilkan diri sebagai sosok sederhana, diam-diam Zita curiga, Herman tidak sesederhana yang kerap ia tampilkannya.

Mereka sering meneliti biota laut dan sungai. Salah satu tempat favoritnya adalah Sungai aliran sungai yang jernih berpagar hutan lebat amatlah memesona. Tak jarang mereka bersua dengan penduduk setempat yang tengah berendam di sungai tersebut. Menurut Herman, masyarakat setempat percaya, sungai tersebut memiliki keistimewaan bisa menyembuhkan berbagai penyakit..Namun Zita menganggap hal itu konyol dan tak percaya sedikit pun akan takhayul tersebut. Namun, Herman dengan tegas mengingatkan agar ia menghargai kepercayaan leluhur tersebut.

Zita kerap memperhatikan ikan-ikan kecil yang lalu-lalang dalam aliran sungai nan jernih itu. Kawanan ikan tersebut seolah menari melawan arus, Dan sesekali menampakan atau berloncatan keluar dari air.

Lucu dan indahkan Zita... “Kami disini menyebutnya ikan pelangi,”... ujar Herman sambil tersenyum. Ia menyukai ketakjuban yang memancar dari wajah Zita. Terasa wajar dan jauh dari kepura-puraan.

“Benar indah sekali Herman.”

Mata bulat Zita bersinar-sinar ketika menatap ikan berwarna ungu dengan bercak biru tua pada bagian belakangnya, sementara insang ikan tersebut tertutup warna keemasan dan siripnya warna violet kebiruan. Dalam jumlah yang banyak kawanan itu tampak bagai pelangi yang tak henti bergerak dan sesekali mengikuti aliran derasnya sungai.

Zita pun sering kali terpesona menatap keindahan sungai dan lautnya. Sering ia berpikir, mungkin Tuhan tengah tersenyum ketika menciptakan pulau dewata bali.Tempat ia bisa melupakan dirinya, dan melarutkan kepedihan hatinya.

“Kamu tak ingin kembali kekota Jakarta?”.... Tanya Herman sesekali.

Zita mengangkat bahu.

“Aku belum menemukan alasan untuk kembali"......Seru Zita sambil memalingkan wajahnya dari Herman.

“Bila kamu sudah menemukan alasan?”.....Tanya Herman kembali.

“Entahlah. Kuharap alasan itu cukup kuat untuk membawaku pergi dari tempat yang menakjubkan ini.”

Saat itu senja turun perlahan. Cahaya keemasan memantul berkilau di atas sungai serta lautan sejauh mata memandang. Suasana terasa magis. Wanita itu termangu menatap bulatan cahaya yang perlahan tenggelam. Pada saat yang sama lelaki bermata Sendu itu pun tengah terpaku menatap keindahan lekuk wajah Zita.

Sangat berbeda dari hari kemarin, Pagi ini pun langit tak biru sempurna. Udara yang terasa mengepung menimbulkan kegelisahan di hati Zita. Tiba juga ia diakhir penghujung musim kemarau...Herman memperhatikannya sejak tadi.

“Sebentar lagi musim hujan tiba"...Mata Herman menakar raut wajah Zita..... “Tak baik berada di tepi sungai saat hujan turun. Sebaiknya kamu pindah ke rumahku. Mama yang memintanya.”

“Akan aku pikirkan dulu,”..... Potong Zita cepat, Ia tak ingin terlihat begitu rapuh dengan alasan tak masuk akal.

Herman mengangkat bahu.

“Sebaiknya... ummh, kurasa kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”

“Aku tidak”......Zita mencoba untuk menyanggah, Namun, sinar mata Sendu Herman yang dalam membuatnya urung membantah.

Suasana musim hujan kian menjelma diakhir November dan awal Desember...Kemarau begitu cepat berlalu, setidaknya begitulah perasaan zita. Ia tak siap menghadapi musim penghujan yang datang di tempat persembunyiannya ini. Ingatannya pada Agus kembali bersama bulir-bulir air matanya yang jatuh di tanah cokelat pulau Dewata.

Peristiwa itu terjadi saat hujan turun teramat deras.

“Jangan pergi, Mas Agus".....Pintanya, rasanya seperti memohon sebuah keajaiban. Meski ia sudah memperkirakan jawabannya, toh, ia tetap melakukannya. Lelaki itu mendengus. Pandangan matanya mengiris Zita. Seolah-olah wanita itu tak lebih dari gumpalan daging yang tak berharga.

“Apa selama ini kau membayangkan cinta, Zita?” suara Agus terdengar mengejek. Zita memejamkan mata. Tiap kata yang keluar dari mulut Agus tak ubahnya sembilu yang mengiris hatinya. Rasanya menyakitkan. Terlebih karena ia sadar, ia memang mencintai Agus.

“Jangan bayangkan cinta. Karena aku tak pernah merasakannya. Tidak denganmu. Pernikahan ini hanyalah omong kosong. Camkan itu".....Bentak Agus geram.

Zita hanya bisa terdiam.... Ketika hujan mengaburkan bayangan lelaki itu dan membawanya pergi. Malam itu ia hanya bisa menggigil. Menyesali kebodohan dan kenaifannya, sementara hujan deras mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Lelaki itu merampas seluruh harga dirinya, menginjaknya dan meninggalkan kekosongan yang membekukan saraf.

Entah mengapa sejak saat itu ia membenci hujan. Ia membenci kenangan yang dibawa hujan dalam tiap tetesnya. Lebih dari semua itu, Zita membenci dirinya yang selalu berpikir bahwa sebuah pernikahan akan menumbuhkan cinta di hati yang lain.

Pernikahan itu hanya bertahan dua bulan. Tidak lebih. Agus terpaksa menikahinya untuk memenuhi permintaan ibunya yang tengah sakit keras. Pernikahan yang dipaksakan demi ambisi orang tua, begitulah anggapan Agus. Ia memutuskan meninggalkan Zita tepat sehari setelah ibunya mengembuskan napas terakhir. Ia memilih mengejar cinta yang lain. Zita pernah melihat fotonya. Seorang wanita cantik dengan lesung pipi yang mendekik indah di pipi.

Agus tidak peduli tindakannya tersebut melukai keluarga besar istrinya. Terutama Zita. Rasa malu dan terluka membuat Zita melarikan diri dari kota kelahirannya, di mana hujan bisa runtuh sewaktu-waktu. Ketika kantor tempatnya bekerja membutuhkan tenaga peneliti untuk ditempatkan di wilayah Pulau Bali Indonesia, tanpa berpikir dua kali Zita langsung mengajukan diri.

Hingga detik ini ia tak pernah menyesali keputusannya untuk berada di pulau tercantik di dunia. Pulau Bali.

Dan kini, hujan kembali menyapa. Tanpa sadar Zita menggigil menahan perih yang perlahan merayapi hatinya. Masihkah ia mencintai Agus? Entahlah. Yang ia tahu, luka itu masih mengalirkan darah yang belum mengering.

“Masuklah ke dalam, Zita. Hujan tak baik untuk kesehatanmu.”... Suara lembut Herman menyentak kesadarannya. Ditatapnya mata Sendu kelam Herman. Mata itu seperti samudra yang selalu menenangkannya.

Kadang-kadang zita berharap menemukan tatapan selembut itu pada sepasang mata Agus. Kenangan itu kembali menusuk hatinya. Zita memejamkan mata, berharap bayangan Agus tak lagi mengganggunya.

“Kamu selalu tampak terluka tiap kali hujan turun,”.... Herman masih menatapnya..... “Ada apa Zita?”

“Aku..., baik-baik saja,”...Zita Mengelaknya. Tatapan mata Herman menimbulkan debar lembut di dadanya.

“Kukira kamu sama sekali tidak baik-baik saja.” .....Herman menekan ujung kalimatnya. Zita menghela napas. Berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk mengeluarkan beban batinnya.

“Ia pergi saat hujan turun. Dan tak pernah kembali.”.... Lirih suara Zita.

“Karena itukah kamu membenci hujan?”

“Terdengar tolol, bukan?”... Zita menertawakan kebodohannya.

“Kamu masih mencintainya?”

“Entahlah.”... Suara Zita tak yakin.

Akhirnya Zita segera masuk kedalam rumah menuruti saran Mama I Made Reny, ibundanya Herman. Berada di tempat sunyi akan sangat berisiko bagi kondisi psikisnya yang tidak stabil. Zita duduk di teras rumah yang terbuat dari kayu. Hari sudah beranjak siang. Herman pun sudah tiga hari pergi ke kota karena ada urusan yang harus dikerjakannya.

Entah mengapa ia merindukan kehadiran Herman. Tatapan Sendu pemuda itu selalu menghangatkan hatinya. Kerap di malam-malam sunyi, ia rindu suara Herman yang selalu mengingatkannya untuk beristirahat bila ia terlalu keras kepala melakukan pekerjaan-pekerjaan sulit.

Pemuda itu pun memiliki wibawa yang memancar pada saat ia berada di tengah-tengah masyarakatnya. Kekagumannya pun kian bertambah ketika mengetahui Herman meraih gelar sarjana dari sebuah universitas ternama di Pulau Jawa, Namun lebih memilih membangun daerahnya daripada menikmati karier cemerlang di perusahaan asing.

Ingatannya tentang Herman membuat ujung bibirnya melengkung indah. Ah!!, Herman....

Tiba-tiba terdengar suara...."Zita.”

Zita mengenali suara itu....Herman. Dadanya berdebar.

Zita menoleh. Senyum yang mengembang di wajah Zita tiba-tiba membeku. Herman tak sendiri...Herman datang bersama seorang wanita cantik yang menggandeng lengannya dengan sikap manja.

Entah mengapa, Zita merasa ia pernah melihat wanita itu. Wajah itu sangat familiar dalam benaknya. Ia mulai merasa tak nyaman. Wajah itu mengingatkannya pada sebuah luka. Luka yang perlahan kembali menganga.

“Kamu terlihat sehat sepeninggalku. Oya, kenalkan ini Bubu Rita Anjeli. Teman kuliahku dulu. Ia ingin berlibur di sini beberapa hari."

Bubu Rita Ajeli tersenyum manis.....“Senang bertemu denganmu.”....Jawabnya santai.

Zita terpana bibirnya terasa keluh, Badannya agak gemetar, Wanita yang indah itu pernah ia lihat. Persis seperti yang dilihatnya pada selembar foto. Foto yang ia temukan di dalam dompet suaminya. Tiba-tiba Zita merasa bumi di bawah kakinya berguncang, Keindahan pulau dewata Bali seolah lenyap seperti dunia beku mati. Cuma sayatan-sayatan pedih yang ia rasa dan semakin menjadi, Pandangan matanya menjadi gelap. Hingga ia tak ingat jiwanya kembali, dimana dan harus kemana.




~>> TAMAT <<~~