CERPEN : Misteri Kebaya Biru



Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika Satria membongkar kardus-kardus tua peninggalan sang nenek di loteng rumah. Rumah warisan di sudut kota Lama Surabaya itu baru saja ia tempati kembali setelah bertahun-tahun kosong. Udara di loteng terasa lembap, berbau debu tebal dan kayu tua yang mulai lapuk. Di antara tumpukan majalah usang dan lembaran foto hitam putih, tangan Satria tak sengaja menyentuh sebuah kain berserat halus yang dingin.

Ia menarik kain itu keluar. Sebuah kebaya kutubaru berwarna biru langit, berenda keemasan di bagian tepinya. Yang membuat Satria terpaku bukan hanya keindahannya yang masih terjaga, melainkan aroma yang menguar seketika dari kain tersebut, wangi melati segar bercampur kemenyan yang sangat pekat, kontras dengan bau debu di sekitarnya.

Tanpa pikir panjang, Satria membawa kebaya itu ke lantai bawah, mencucinya sekadarnya, lalu menjemurnya di beranda belakang. Ia pikir, benda itu bisa dijual atau sekadar dijadikan pajangan antik. Namun, malam itu, keanehan-keanehan mulai terjadi.

Tepat pukul 02.00 WIB, Satria terbangun oleh suara ketukan pintu depan. "Tok... tok... tok." Ketukannya pelan, namun berirama sangat tegas.

Dengan mata setengah terpejam, Satria melangkah ke ruang tamu dan mengintip dari balik kaca jendela. Di luar, suasana tampak sepi. Lampu jalanan berkedip lemah. Merasa ada yang tidak beres, Satria membuka pintu utama. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Saat ia hendak menutup kembali pintu, matanya menangkap sesosok bayangan samar berdiri di dekat jemuran belakang. Sontak, bulu kuduknya meremang. Di bawah temaram lampu genting, kebaya biru yang tadi ia jemur tampak melayang-layang sendiri, seolah-olah ada tubuh tak kasat mata yang mengenakannya.

Satria, yang diliputi rasa penasaran bercampur takut, memberanikan diri mendekat. "Siapa di sana?" tanyanya dengan suara bergetar.

Angin malam tiba-tiba bertiup kencang, memadamkan lampu bohlam di beranda belakang. Dalam kegelapan total, Satria mendengar suara bisikan tepat di telinganya, dingin dan berbisik pelan, "Kembalikan... milikku..."

Keesokan harinya, Satria yang kurang tidur memutuskan untuk menemui Pak Dias, tetangga tertua sekaligus mantan pengurus rumah tersebut. Sambil meneguk kopi hitam, Satria menceritakan kejadian semalam dan menunjukkan kebaya biru itu.

Wajah Pak Dias mendadak pucat seketika begitu melihat kebaya tersebut. Ia meletakkan cangkirnya dengan tangan gemetar.

"Daripada kau simpan, benda itu membawa malapetaka, Satria," ujar Pak Dias lirih.. "Itu adalah kebaya kesayangan Nyai Vina, penari istana puluhan tahun lalu yang tinggal di rumah itu. Ia tewas dalam kebakaran misterius tepat di malam pertunangannya, mengenakan kebaya biru persis seperti itu."

Pak Dias menambahkan bahwa arwah Nyai Vina tidak pernah tenang karena jasadnya ditemukan hangus tanpa kebaya yang sangat dicintainya, kebaya yang ternyata selama ini tersimpan di loteng tempat Satria membongkarnya.

Malam itu, teror semakin menjadi. Suara gamelan pelan berdengung dari arah kamar mandi, dan bayangan perempuan berkelebat di setiap sudut dinding rumah. Satria menyadari, kebaya itu tidak boleh sekadar dibuang, ia harus dikembalikan dengan cara yang benar agar sang pemilik tenang.

Dengan sisa keberaniannya, Satria membawa kebaya biru itu kembali ke loteng. Ia membakar dupa, meletakkan kebaya tersebut di atas nampan kayu tepat di tengah ruangan, lalu melafalkan doa-doa keselamatan dengan tulus.

Seketika, suhu di loteng yang tadinya dingin membeku berubah menjadi hangat. Bau melati yang tadinya pekat perlahan memudar, berganti udara segar. Di hadapannya, samar-samar terlihat siluet seorang perempuan berambut panjang tersenyum tipis sebelum akhirnya memudar bersama angin.

Kebaya biru di atas nampan itu pun lenyap, menyisakan sehelai kelopak bunga melati segar yang jatuh ke lantai kayu. Sejak malam itu, rumah warisan tersebut kembali tenang, dan Satria tidak pernah lagi mendengar ketukan misterius di jam dua pagi serta hal aneh lainnya.





~ THE ~ END ~

Posting Komentar

0 Komentar