Saya akan curhat diblog ini. Meski secara pribadi sebenarnya saya orang paling anti curhat dimedsos atau blog.
Tapi kali ini tidak apalah dari pada blog tidak terurus dan tidak ada tulisannya juga. Mau buat Cerpen atau hal lainnya otak saya juga lagi nggak konsen, jadi ketimbang pusing mau nulis apa, yaa tulis saja masalah keseharian dalam hidup saya, dan kata sebagian orang ngeblog hari gini sudah tidak zaman lagi. Tapi bodoh amatlah yang penting saya curhat dan nulis.😁😆
Ceritanya begini awal pertengahan bulan Juni istri pertama saya sakit jadi mau tidak-tidak mau saya lebih sering di Kota Depok, Ketimbang harus bolak-balik ke Kota Bekasi dimana tempat istri kedua saya tinggal.
Karena sibuk dengan pekerjaan juga jadinya saya ketempat istri kedua saya dalam sebulan hanya dua kali, diawal dan diakhir Bulan. Dan setelah istri pertama saya sembuh, masih dipertengahan bulan, akhirnya saya bisa kembali berkunjung ke kota Bekasi menemui istri kedua saya.
Namun sebelum berangkat ke Bekasi saya mencoba menelpon istri kedua saya namun tidak diangkat, saya kirim pesan pun tidak dibalasnya, meski agak aneh namun saya tetap berpikir positif.
Biasanya istri saya jika di telepon tidak diangkat, iya akan menelepon balik atau balas dengan pesan chat. Akhirnya tak mau ambil pusing sayapun langsung saja menuju kota Bekasi.
Singkat cerita sayapun sampai di Bekasi jam 19.30 malam, setelah memasukan mobil kedalam garasi rumah dan mengunci pagar sayapun mengentuk pintu rumah yang nampak sepi. Tak berselang lama istri saya langsung membuka pintu, setelah membuka pintu tanpa bicara sedikitpun ia langsung masuk kamar kembali.
Sesuatu yang aneh, bagi saya karena tidak biasanya jam segini istri saya langsung masuk kamar. Karena badan agak gerah saya memilih mandi dan setelah itu saya akan menanyakannya langsung pada istri saya. Beberapa menit kemudian saya sudah berada didalam kamar.
"Sayang kamu sakit" Tanya saya.
"Nggak cuma, kesal dan jenuh saja sama kamu" Balasnya dengan nada emosi tinggi.
Sayapun dibuat tidak mengerti olehnya, lalu mendekatinya sambil memeluknya. Iapun menepis tangan saya sambil mendorongnya agar saya tidak bisa memeluknya.
"Dellia kamu kenapa sih, coba dong jelasin aku salah apa" Tanya saya bingung.
"Kamu pikir aja sendiri, peka dong kalau jadi suami. Ingat nggak sama janji kamu" Balasnya sambil menangis.
Mendengar kata Janji saya jadi tahu penyebab Dellia jadi marah kepada saya. Ternyata saya baru ingat dan wajar saja kalau Dellia marah kepada saya, jadi dari awal menikahinya hingga saat ini. Setiap bulannya tanpa absen, saya selalu mengajak Dellia refreshing, jika tempat tujuannya agak jauh hanya satu kali dalam sebulan tetapi jika masih sekitaran Jabodetabek bisa dua kali.
Terakhir Dellia refreshing sama saya sehabis lebaran bulan maret, itupun hanya sekitaran Jabodetabek saja. Jadi antara April dan Mei tidak pernah sama sekali. Karena pada bulan April saya membawa istri pertama saya kekota Jember itupun saya lakukan karena sudah berjanji akan mengajaknya kesana sejak jauh-jauh hari. Dan saya juga pada saat itu menawarkannya pada Dellia, namun ia menolaknya.
Sayapun paham atas penolakan ia, karena sejak menikahi Dellia, baik Vina dan Dellia selalu menjaga jarak. Padahal dulunya Dellia orang kepercayaan istri pertama saya Vina, Tetapi setelah tahu saya suka dengan Dellia, Vina sangat marah besar kepada saya bahkan ia histeris minta saya untuk menceraikannya. Namun saya tetap kekeh tak akan mau menceraikannya karena bagi saya Vina adalah perempuan yang super amat menyenangkan dan sangat berbeda dengan mantan-mantan saya terdahulu.
Karena akar cinta saya dan Vina begitu kuat akhirnya Vinapun mengikhlaskan saya untuk menikahi Dellia, ia juga berkata kepada saya bahwa sesungguhnya ia juga tak ingin bercerai kepada saya.
Sejak saat itu antara Vina dan Dellia seperti ada batas yang sudah mereka buat masing-masing meski jika bertemu mereka tetap saling tegur sapa agar terkesan akrab. Berbagai cara pernah saya coba agar mereka bisa saling akrab seperti dulu lagi, namun kenyataannya tetap tidak bisa, yaa mungkin dengan begitu adalah jalan yang terbaik menurut mereka, sayapun tidak mau memaksa keduanya.
Atas kejadian tersebut akhirnya saya mengakui kesalahan saya, apapun alasannya hari ini saya telah membuat Dellia menangis, padahal dulu saya sudah berjanji sama Dellia tidak akan pernah membuatnya menangis.
Saya peluk tubuh Dellia erat-erat sambil menghapus air matanya ... "Maafkan aku yaa sayang, Sumpah aku khilap, sampai lupa hampir dua bulan tidak pernah memikirkan lelahmu dan perasaan kamu".
Tak ada jawaban dari Dellia hanya suara tangisnya saja yang masih sesegukan. Sayapun membelai rambutnya dan mencium keningnya lalu kembali berkata ... "Besok kita jalan-jalan ke Bali yuk" Seru saya.
Dellia mengangkat wajahnya dan menatap saya "Aku nggak mau kamu hambur-hamburkan uang cuma untuk jalan-jalan, dan aku juga nggak pernah menuntut kamu yang berlebihan" Balasnya pelan.
"Sssttt" Saya menempelkan jari kebibir Dellia dan menciumnya dan kembali berkata "Nggak berlebihan kok, cuma ingin menebus kesalahanku kepada kamu" Jawab saya. "Ooh begini saja kamu belum pernah kekota Jemberkan sedangkan Vina sudah bulan April kemarin, jadi biar sama-sama adil mau yaa kita jalan-jalanya kekota Jember, sambil mengontrol bisnis kontrakan serta toko kita yang ada disana." Seru saya kembali.
Delliapun tersenyum sambil sesekali menghapus air matanya yang masih tersisa dipipinya. "Dan enaknya kalau sudah dikota Jember untuk ke Bali lebih dekat kok, itupun kalau kamu mau" Seru Saya.
Dellia pun kembali berkata kepada saya. "Berarti dari kota Surabaya kita bisakan mampir ke kota Malang" Tanya Dellia kepada saya.
"Tentu" Jawab saya. "Dari Surabaya kita mampir Kekota Malang, dan mampir lagi kekota Lumajang, sampai deh dikota Jember, terus lanjut deh ke Banyuwangi sampai deh dipulau Bali".
Akhirnya saya dan Dellia tertawa bersama, Dellia kembali memeluk saya dan membisikan sesuatu ketelinga saya. "Sayang aku lapar kita makan Yuuk".
"Oiya aku juga lapar" Balas saya kembali sambil menarik tangan Dellia keluar kamar menuju meja makan sambil tertawa kembali.
Keesokan harinya saya berkemas-kemas menyiapkan semua keperluan yang akan saya bawa kekota Jember bersama Dellia dan pangeran kecil saya yang berusia 5 tahun. Tidak lupa saya juga mengabari istri pertama saya Vina, Dan berkata kepadanya bahwa saya akan membawa Dellia jalan-jalan kekota Jember.
Vinapun tidak mempermasalahkannya hanya berkata jangan lupa bawa oleh2nya setelah dari kota Jember. Setelah obrolan saya dengan istri pertama saya selesai saya segera menghubungi sahabat saya Ance dikota Jember, karena saya dan Dellia akan berkunjung kesana, Ance pun sangat senang dan siap menunggu kehadiran saya dan Dellia dikota Jember.
Demikianlah sedikit kisah pribadi perdana saya yang baru kali ini saya tulis diblog. Yang Romantis-romantisnya nggak perlu ditulis ntar yang ada lub pada Ngiri atau Nganan lagi.😁😆😆 Sebenarnya panjang ceritanya sih cuma bisa 7 hari 7 malam ditulis yang ada bisa semaput guenye.😁😆🤣
Terakhir cuma mau mengingatkan bagi anda yang sudah punya pasangan menikah baik baru maupun sudah lama. Mau pasangan anda ada 1 atau pun ada 10, pernah nggak dalam sebulan ada mengajak pasangan anda Refreshing, kalau belum coba deh karena dengan begitu bisa melanggengkan pernikahan kalian.😁😊



0 Komentar
TERIMA KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA UNTUK MEMBACA CORETAN YANG EEHEEM,! UHUUKS2!