Berdamai Dengan Ibu



Setelah yakin dan sudah siap akan menikah dengan Dellia, saya segera mengabari ibu saya pagi itu. Karena antara saya dengan keluarganya Dellia sudah saling kenal kini giliran saya yang akan mengenalkan keluarga saya keseluruh keluarga calon istri saya pada saat itu.

Dan saya optimis pastinya ibu saya akan mau memberi restu kepada saya. Karena apapun urusan ibu saya, dari mengantar ia kerumah sakit hingga uang bulanan untuknya, semua sudah menjadi tanggung jawab saya.

Akan tetap kenyataannya tidak sebaik yang saya harapkan. Ibu saya menolak memberi restu setelah tahu bahwa saya akan menikah lagi.

Meski saya mencoba menjelaskan kepadanya secara detail akan tetapi ia tetap bersikeras pada pendiriannya yaitu menolak memberi restu kepada saya sambil berkata.."Kamu itu nggak kasihan sama Vina istri kamu? Sejak kapan prilaku kamu kembali lagi seperti masih sekolah yang paling sering gonta-ganti pacar, dimana pikiran kamu".

"Justru itu mah, Dengar dulu..."

"Saatria apapun alasannya Mama tetap tidak setuju, Kamu itu sama kaya bapakmu memutuskan sesuatu tanpa pernah berpikir panjang secara jernih".

"Papa sudah nggak ada, tolong jangan dikait-kaitkan kemasalah aku mah".

"Terserah kamu mau bilang apa ke mama intinya mama tetap tidak setuju, Pikirin dong gimana nasib Vina istrimu itu".

"Lho aku nggak ada masalah sama Vina kok, dengar mah, Vina nggak kurang satu apapun selama menikah sama aku".

"Mama sudah bilang tadi, apapun alesannya mama tetap nggak setuju kamu menikah lagi".

Akhirnya apa yang saya perdebatkan tetap menemui jalan buntu, meski kesal saya lebih memilih untuk mengalah ketimbang harus terus memaksa ibu saya sendiri.

Hanya ada satu cara bagi saya untuk mempunyai seorang wali nikah, Sayapun menelepon om saya yang ada dikota Binjai Sumatra Utara untuk menjadi wali nikah saya, beruntung ia mau dan siap membantu saya apapun yang terjadi.

Dan saya berjanji kepada om saya yang bernama Daeng Ikram, akan memberi imbalan lebih jika urusan pernikahan saya telah selesai. Daenk Ikrampun juga berjanji kepada saya tidak akan mengecewakan saya, selain istrinya Daenk Ikram juga banyak membawa keluarga besarnya yang ada di Binjai Sumatra Utara serta koleganya yang ada di Jakarta.

Hingga acara pernikahan itu terjadi sampai selesai Alhamdullilah semua berjalan lancar meski ada ganjalan pada hati saya karena Ibu dan beberapa saudara kandung saya, tidak mau menghadiri acara pernikahan tersebut.

Sejak itu antara saya dan ibu seperti ada jarak, bahkan hampir tidak pernah saya bicara dengannya, meski demikian saya tidak pernah membencinya, bahkan sedari awal saya sudah memaafkannya.



~ Tiga Tahun Kemudian ~


Hingga dipengujung akhir tahun 2024, ketika sedang sibuk ditoko istri saya Vina memberi kabar kepada saya, bahwa ibu saya sedang bersamanya dirumah, Dan sore harinya setelah saya sudah dirumah ternyata ibu sudah pulang, sayapun menanyakan hal itu kembali kepada istri saya Vina.. "Berapa lama ibu bersama kamu dirumah sayang".

"Hampir dua jam lebih, ia kesini katanya meminta kamu untuk mengantarkannya besok kerumah sakit, dan ia juga menanyakan Dellia serta anaknya".

Vina istriku kembali menjelaskan secara detail kehadiran ibu saya sewaktu bersamanya dirumah.

"Aneh, hampir 3 tahun lebih ibu jarang bertegur sapa dengan aku, Ya sudahlah kalau begitu nanti malam aku akan menemuinya". Balas saya sambil menikmati teh hangat buatan istri saya.

Malam harinya saya sudah berada dirumah ibu saya, meski ada rasa canggung karena lama tidak pernah seakrab sebelumnya namun saya mencoba menepis hal itu semua.

"Kata Vina mama besok minta aku mengantar kerumah sakit? Mau kontrol aja apa ada hal lain mah". Tanya saya mencoba santai.

"Cuma kontrol aja kok" Balas ibu saya.

"Anak mama yang lainnya pada kemana emangnya? Bertahun-tahun cuma aku yang selalu antar mama kerumah sakit, seakan-akan anaknya cuma satu."

Ibu saya nampak bingung ingin menjawab apa, seperti menyesali apa yang telah ia perbuat dahulu kepada saya.

"Dengar mama dulu Satria, Itu kalau kamu mau, mama nggak maksa, oiya perempuan yang kamu nikahi itu sudah punya anak? Mama boleh bertemu dengannya".

"Boleh, oiya Kenapa sih mah, setiap urusan aku selalu jadi Konflik terus, padahal aku nggak pernah ada tuntutan atau meminta apapun pada keluarga".

"Mama sudah bilangkan tadi kalau kamu keberatan ya mama juga nggak maksa, termasuk bertemu istri kedua kamu".

"Kalau mama mau bertemu sama Dellia berserta anaknya cuma ingin marah-marah dan banyak nasihat mending nggak usah mah"... Seru saya.

"Mama tahu sopan santun ditempat orang Satria, itu kalau kamu masih mau percaya sama mama".

"Ok kalau niat mama baik akan aku bawa mama bertemu dengan Dellia setelah dari rumah sakit".

Keesokan harinya saya mengantar ibu saya kerumah sakit untuk mengontrol kesehatannya, setelah urusan dari rumah sakit selesai sayapun segera membawa ibu saya kekota Bekasi untuk menemui Dellia.

Satu jam lebih perjalanan akhirnya saya tiba dikota Bekasi, dirumah kedua yang saya tempati bersama Dellia, setelah saya dan ibu turun dari mobil kami berdua tidak langsung masuk. Karena ibu saya masih menikmati lingkungan yang baru ia datangi.

"Berarti rumah ini milik kamu sama istri kamu Dellia, sewaktu dimobil kamu bilang mertua kamu tinggal di Cibubur, jadi sejak menikah kamu langsung tinggal dirumah ini". Tanya ibu saya kembali.

"Iya mah betul, jadi kalau mau ke Depok baru aku sempatkan diri mampir ke Cibubur".. Balas saya.

"Lalu rumah kamu yang di Bekasi timur siapa yang mengurusnya".

"Dulu aku sama Vina sering kesana untuk sekedar menginap beberapa hari biar nggak bosen di Depok terus tapi, karena kesibukan akhirnya sekarang aku kontrakin sajalah biar nambah-nambah pemasukan". Ucap saya kembali.

"Ooh begitu, eeh hayu temani mama bertemu Dellia".

Sayapun membawa ibu saya menuju pintu utama rumah setelah mengetuknya akhirnya Dellia membukakan pintu untuk kami berdua, meski sebelumnya saya telah memberi kabar kepadanya.

Seteleh pintu terbuka tanpa basa-basi ibu saya langsung memeluk Dellia, seruan kata maaf keluar dari bibir tuanya, demikian dengan Dellia iapun juga meminta maaf sambil menangis, suasana menjadi hening sejenak. Kejadian tersebut tak luput menjadi perhatian bagi anak saya yang masih balita, meski sedikit bingung dengan apa yang terjadi dimatanya.

Meski terharu melihat kejadian tersebut akhirnya saya menggendong anak saya, dan iapun langsung bertanya bingung kepada saya..."Ayah kok mama menangis? Nenek itu siapa"?

"Mama minta balon sama nenek itu, tapi nenek itu lupa, nanti adik minta ya sama nenek itu".

Sontak saja apa yang sedang saya bicarakan dengan anak saya membuat ibu saya berpaling dan langsung segera mengambilnya dari gendongan saya.."Duh cucu nenek ganteng sekali, kerumah nenek yuk banyak mainan lho adik mau nggak?"

Karena baru melihatnya anak saya nampak sedikit bingung sampai akhirnya ia berkata pelan.. "Tapi nek, ayah sama mama boleh ikutkan?"

"Boleh dong". Seru ibu saya sambil kembali duduk menghampiri Dellia, sambil membelai rambut Dellia ibu saya kembali berkata.."Usiamu sekarang berapa sayang?"

Dellia tersenyum sambil berkata.."Mau akan 31 bu".

"Kasih ibu cucu lagi yang banyak ya, dan kamu jangan pernah pernah bertengkar sama Vina, pokoknya ibu sayang sama kalian berdua mulai hari ini".

"Iya bu, aku sama mbak Vina tidak ada masalah kok, kan dulunya ia bos aku". Balas Dellia dengan senang.

Akhirnya kami semua tertawa penuh rasa haru seolah baru saja lepas dari semua badai yang pernah ada. Ditengah tawa haru tersebut ibu sayapun kembali berkata kepada Dellia.."Oiya Della sayang kalau anak ibu buat kamu tidak nyaman cepat lapor sama ibu yaa".

"Duuhh!! Baru berapa jam disini mama sudah mulai mojokin aku lagi nih"... Balas saya sambil tertawa terkekeh.

Delliapun ikut tertawa sambil akhirnya mengajak saya dan ibu untuk segera santap siang kemeja makan. Siang itu sangat berbeda bagi saya, karena ganjalan yang ada dihati saya selama 3 tahun akhirnya bisa hilang dan berganti kedamaian serta kebahagian. Meski tak ada kata minta maaf dari ibu saya kepada saya pribadi, bertemu dengan istri saya Dellia seolah sudah mewakili semuanya.

Dan sayapun berharap semoga tak pernah ada perselisihan lagi antara saya dan ibu selamanya, Aamiinn.
🙏🙏




~ THANK ~ YOU ~

Posting Komentar

0 Komentar