CERPEN : Dua Cinta Satu Perjalanan



Langit sore di sebuah Depan halaman rumah di Kota Surabaya perlahan berubah menjadi keunguan ketika Satria berkemas-kemas merapikan tas punggungnya, yang siap iya akan masukan kedalam bagasi mobilnya, ada dua perempuan yang mengisi ruang pikirannya, satu dalam memori yang utuh, dan satu lagi yang sedang duduk di sampingnya sambil menggenggam dua cangkir kopi panas.

Vina, perempuan yang duduk di sebelahnya, menyodorkan salah satu cangkir. Senyumnya teduh, tipe senyum yang selalu berhasil meredakan gelisah Satria selama tiga tahun terakhir. Mereka sedang bersiap akan kembali ke Jakarta, mengakhiri liburan singkat di kota Pahlawan tersebut.

"Kamu dari tadi melamun terus, Sayang," kata Vina lembut, menatap lekat wajah Satria. "Mikirin pekerjaan buat besok ya?"

Satria menyunggingkan senyum tipis, lalu menggeleng. "Enggak. Cuma lagi menikmati suasana sore saja."

Satria berbohong. Pikiran Satria sebenarnya terlempar ke lima tahun yang lalu, di sudut rumah yang sama. Di sanalah ia terakhir kali melihat Dellia. Dellia adalah cinta pertamanya, sosok yang pernah menjadi pusat dunianya. Hubungan mereka harus terhenti bukan karena rasa yang usai, melainkan karena jarak dan impian yang tak bisa diselaraskan. Dellia memilih pergi berkarier ke luar negeri untuk mengejar cita-citanya, meninggalkan Satria bersama kenangan yang membekas terlalu dalam. Selama bertahun-tahun, Satria merasa hatinya terkunci di rumah ini.

Namun, hidup tak pernah benar-benar berhenti. Vina hadir kemudian, membawa warna baru tanpa pernah memaksa Satria menghapus masa lalunya. Bersama Vina, Satria belajar bahwa mencintai bukan berarti menemukan seseorang yang sempurna tanpa celah, melainkan menemukan seseorang yang membuat perjalanan hidup terasa lebih ringan dan berarti.

Sore hampir mendekati malam, burung-burung kembali menuju sarangnya nampak riang di udara. Lembaran kenangan tentang Dellia perlahan tertutup di dalam dada Satria. Ia memandang wajah Vina yang sedang sibuk merapikan barang bawaan mereka. Ada rasa hangat yang membuncah, rasa tenang yang tidak pernah ia dapatkan dari kenangan manis bersama Dellia.

Satria mengerti sekarang. Dellia adalah bagian dari perjalanan yang membentuk siapa dirinya hari ini, sedangkan Vina adalah tujuan tempat ia ingin pulang. Dua cinta itu tidak pernah saling menghancurkan; yang satu mengajarkannya cara merelakan, dan yang lain mengajarkannya cara bertahan.

Satria meraih jemari Vina, menggenggamnya erat dan siap menuju kedalam mobil meninggalkan kota Surabaya menuju Jakarta.

"Yuk, kita berangkat". Ajak Satria mantap.

Vina tersenyum mengangguk, dan bersama-sama, mereka melangkah masuk menuju perjalanan yang baru menuju kota Jakarta.





~ THE ~ END ~

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Lah sedang asyik-asyiknya baca tau-tau udah kelar, singkat amat ceritanya? Lalu gimana dengan Dellia yang meniti karir di luar negeri tak adakah niat untuk kembali?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya Nulisnya serius eeh ada tamu dirumah hampir 2 jam lebih, Pas mau nulis lagi jadi mandek ide langsung gue bikin Tamat aja.🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Oh, seperti itu. Pantesan singkat amat.

      Eh ngomong-ngomong ini lagunya siapa ya?

      Hapus
  2. 🤣🤣🤣 Tiara Andini Huu... "Tanpa Cinta"

    BalasHapus

TERIMA KASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA UNTUK MEMBACA CORETAN YANG EEHEEM,! UHUUKS2!